Jejak Perjuangan Dan Keteladanan Para Tabi’in

buku yang mengisahkan perjalanan hidup orang-orang hebat dari para tabi’in, yang merupakan panutan dan figur sejati bagi kita semua kaum Muslimin. Buku ini disajikan dalam bingkai sastra, yang menyajikan begitu banyak mutiara kehidupan sebagai perhiasan ub

Rp.60 ribu
Tidak Termasuk Ongkos Kirim (kecuali produk yg tertera free ongkir, lihat deskripsi!)
Status Stok: Tanyakan*

Order/Info: [*Chat WA*]


Buku ini adalah potret-potret kehidupan dan perjalanan hidup para tokoh besar dan ulama tabi’in yaitu orang-orang yang Allah sinyalir dalam FirmanNya,


{وَالسَّابِقُوْنَ الْأَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ}.


“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara kaum muhajirin dan kaum anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepadaNya, dan Dia menyediakan bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100).


Dalam ayat ini jelas bahwa mereka yang mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat dengan baik itu adalah para tabi’in .


Pentingnya kedudukan tema buku ini, tertuang jelas dalam apa yang dikatakan oleh penulis dalam kata pengantarnya:


“Dalam buku ini kita dapat menyelami potret-potret dari kehidupan para tabi’in yang hidup dekat dengan zaman kenabian dan berguru langsung kepada para sahabat yang merupakan murid-murid dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka adalah gambaran tentang para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam keteguhan Iman, berpaling dari dunia dan mengorbankan diri demi meraih ridha Allah. Mereka inilah generasi terbaik yang hidup di antara masa hidup para sahabat dengan masa para imam madzhab serta para ulama yang hidup setelah mereka.” Demikian pengantar dari penulis.


Nah, yang menarik adalah bahwa buku ini berbeda dengan karakter tulis buku-buku biografi dalam khazanah perpustakan Islam yang dikenal di tanah air. Hal itu karena buku ini disajikan dalam bingkai sastra, dengan bahasa yang indah dan rangkaian narasi yang mengalir dan benar-benar enak dibaca. Artinya, bahan-bahan tokoh yang diangkat, diurut lalu disusul dengan kata dan kalimat sisipan yang merangkai antara satu penggalan dengan bahan lainnya, sehingga terangkai menjadi satu sajian narasi yang indah dan penuh makna.


Karena itu, ini adalah salah satu buku yang mengisahkan perjalanan hidup orang-orang hebat dari para tabi’in, yang merupakan panutan dan figur sejati bagi kita semua kaum Muslimin. Buku ini disajikan dalam bingkai sastra, yang menyajikan begitu banyak mutiara kehidupan sebagai perhiasan ubudiyah seorang hamba kepada Tuhannya.


Dan karena itu semua, buku ini sangatlah penting bagi setiap Muslim, yang ingin mengenal secara baik orang-orang utama yang layak menjadi panutan.


SAJIAN PILIHAN


Mari kita simak salah satu tokoh besar yang diangkat di dalam buku ini, yang kami sajikan secara ringkas, dengan harapan dapat mewakili penggambaran sajian dan isi buku ini. Beliau ialah Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib n, yang lebih dikenal dengan Zainal Abidin (yang berarti, hiasan para ahli ibadah). Ali ini adalah cucu dari Ali bin Abi Thalib dan cicit dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari garis keturunan Fathimah .


Imam az-Zuhri, salah seorang ulama besar dan juga salah seorang guru dari Imam Malik pernah berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang keturunan Quraisy yang lebih mulia dari pada Ali bin al-Husain, yakni Zainal Abidin.”


Awal kisah …


Pada masa kekhalifahan Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab , dua empirum terbesar kala itu berhasil ditumbangkan kaum Muslimin: Kisra Persia di sebelah timur dan Kaisar Romawi Bizantium di Syam. Ketika itulah harta benda ghanimah dan kekayaan Kisra Persia diangkut ke Madinah, sehingga orang-orang mendekat kepadanya dan menontonnya. Dan di antara para tawanan tersebut terdapat tiga orang putri Kisra Persia, Yazdegerld.


Melihat mereka, Ali bin Abi Thalib merasa iba terhadap mereka, lalu timbul harapan dalam diri beliau mudah-mudahan mereka jatuh ke tangan orang-orang yang baik dalam mengurusi mereka. Di sini, Anda tidak perlu heran teradap sikap Ali , karena terdapat atsar yang terkenal di kalangan as-Salaf,


اِرْحَمُوْا عَزِيْزَ قَوْمٍ ذَلَّ.


“Kasihanilah orang terpandang dari kaum yang mendapatkan kehinaan (karena dikalahkan dalam perang).”


Lalu Ali mendekat kepada khalifah Umar dan berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya putri-putri raja tidak layak diperlakukan sama seperti perempuan-perempuan lainnya”. Umar lantas menimpali, “Benar, tapi harus bagaimana?” Ali berkata, “Tetapkanlah Harga mereka lebih mahal, kemudian biarkan mereka bebas memilih siapa yang mereka mau (menjadi tuannya).” Umar senang dengan pandangan Ali tersebut.


Akhirnya, salah seorang di antara mereka memilih Abdullah bin Umar . Yang kedua memilih Muhammad bin Abu Bakar p. Dan yang ketiga, yang dikenal bernama Syah Zinan, memilih al-Husain bin Ali , cucu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.


Syah Zinan ini kemudian memeluk Islam dan menjadi seorang Muslimah yang baik, maka al-Husain memerdekakannya dan menikahinya. Karena itu, dia adalah salah seorang yang paling beruntung di dunia dan akhirat, insya` Allah. Pertama, karena Allah telah membebaskannya dari kekafiran dan kesyirikan dan masuk ke dalam pangkuan Islam yang agung. Dan kedua, dia menjadi istri salah seorang di antara pemimpin pemuda penduduk surga, Al-Husain bin Ali, cucu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.


Sekedar mengingatkan: Inilah garis keturunan yang diagung-agungkan oleh agama Syi’ah dengan pengagungan yang batil. Hal itu karena dengan ini, mereka merasa memiliki hak mewarisi kepemimpinan Umat. Dan inilah sebabnya mereka mengarang-ngarang secara dusta tentang para imam dua belas dan kema’shuman para imam yang mereka kelaim secara dusta.


Nah, dari pernikahan mulia ini, lahirlah seorang putra yang tampan, yang kemudian diberi nama Ali; dalam rangka usaha ngalap berkah dari nama kakeknya, Ali bin Abi Thalib .


Akan tetapi, sang ibunda kemudian wafat ketika masa nifasnya belum berakhir, sehingga tidak bisa menikmati masa-masa indah pertumbuhan sang putra tercinta. Dan yang mengambil alih pengasuhan Ali kecil adalah seorang sahaya al-Husain y sendiri.


Ali bin al-Husain telah terlihat minatnya kepada ilmu, sejak masih kecil, bahkan sebelum menginjak usia mumayyiz. Dan dia terlihat begitu antusias dan rindu dengan majelis-majelis ilmu.


Pendidikan pertama yang dia reguk adalah didikan bapaknya, al-Husain yang tidak diragukan bahwa disamping sebagai cucu dan sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, al-Husain juga ulama besar kaum Muslimin. Dari sang bintang besar ini, Ali kecil mulai menimba ilmu agama secara baik.


Madrasah kedua di mana Ali kecil menimba ilmu adalah Masjid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di sana masih banyak para sahabat yang masih hidup dan juga para ulama dari para tabi’in, yang menyambutnya dengan tangan terbuka sebagai kuncup mekar di antara anak-anak belia yang siap menjadi penerus generasi penuh berkah tersebut. Para ulama itu memangku sang pemuda belia dengan penuh kasih sayang dan buaian pendidikan yang baik.


Dan benar, ketika Ali ini menanjak usia muda, masyarakat Madinah ketika itu benar-benar merasa sangat beruntung dengan kehadiran anak muda dari keluarga besar Bani Hasyim yang benar-benar penuh pesona. Bagaimana tidak, sejak muda belia, Ali ini telah dikenal sebagai ahli ibadah, takwa dan mulia, bahkan salah seorang mulia yang paling agung yang pernah dilihat masyarakat Madinah, paling banyak kebaikannya, dan paling luas ilmunya.


Ketakwaannya kepada Allah yang benar-benar hidup dalam dirinya terlihat jelas dari riwayat-riwayat tentang beliau, yaitu: bahwasanya setiap kali dia berwudhu dia terlihat pucat di wajahnya bahkan pernah terjatuh pingsan di antara wudhu dengan shalatnya. Maka hal itu ditanyakan kepada beliau, “Ada apa?” Dia menjawab, “Duhai kalian! Tidakkah kalian menyadari kepada siapa aku akan berdiri dan tidakkah kalian tahu di hadapan siapa aku akan bermunajat ini?”


Camkanlah ini wahai saudaraku seiman; perhatikanlah bagaimana Ali muda ini menjadi pucat pasi karena menyadari bahwa dirinya akan menghadap kepada Allah ta’ala, sehingga rasa takutnya kepada Allah benar-benar muncul dari dalam hatinya. Ini sangat penting, karena dalam kisah ini ada cermin besar dan jelas bagi setiap kita kaum Muslimin, sejauh mana energi takwa pada diri kita benar-benar ada dalam kapasitasnya yang benar kepada Allah.


Kehebatan ibadah laki-laki agung ini benar-benar membuat kagum masyarakat Madinah kala itu, hingga mereka memangilnya dengan gelar agung, “Zainal Abidin” yang berarti: “hiasan para ahli ibadah”. Nama inilah yang begitu melekat pada sosok tokoh kita ini, hingga lebih dikenal dalam khazanah-khazanah Islam ketimbang namanya. Bahkan dia ini dikenal dengan sujud yang panjang, hingga digelari dengan “as-Sajjad” yang berarti: “orang yang banyak dan lama dalam bersujud”.


Perhatikanlah kisah berikut ini, yang akan membuat terpana orang-orang Mukmin yang menginginkan kebaikan untuk dirinya. Seorang tokoh tabi’in lain, yang juga kisah perjalanan hidupnya dimuat dalam buku ini, yaitu Thawus bin Kaisan, pernah melihat Ali bin al-Husain ini di depan Ka’bah, berdiri didepan bayang-bayangnya dalam keadaan berguling-guling dan meronta bagaikan seorang yang tengah sekarat. Dan ternyata dia sedang berdoa kepada Allah ta’ala dengan doa seorang yang benar-benar dalam keadaan terhimpit dan darurat. Thawus berdiri untuk menunggunya hingga setelah lama berselang dia berhenti dari tangisannya yang akan menyentuh hati sekeras baja sekalipun. Thawus lalu mendekat kepadanya dan menyapa, “Wahai cucu Rasulullah! Aku telah melihatmu dalam keadaanmu ini, padahal engkau memiliki tiga kedudukan yang mana aku berharap itu akan membebaskanmu dari apa yang engkau takuti itu”. Jawab Ali, “Apa itu wahai Thawus?” Thawus berkata, “Pertama, engkau adalah cucu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kedua, syafa’at kakekmu Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu untukmu. Dan ketiga, rahmat Allah”. Mendengar itu Ali menimpali, “Sunguh nasabku kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah membuatku tenang setelah aku mendengar Firman Allah ta’ala,


{فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّوْرِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ}.


“Lalu apabila sangkakala telah ditiup, maka tidak ada lagi hubungan nasab di antara mereka pada hari itu (Hari Kiamat),” (Al-Mu’minun: 101).


Adapun syafa’at kakekku Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untukku, maka Allah Yang Mahatinggi KalimatNya telah berfirman,


{وَلَا يَشْفَعُوْنَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى}.


“Dan mereka (para pemberi syafa’at) tidak akan bisa memberi syafa’at kecuali untuk orang yang diridhai Allah.” (Al-Anbiya`: 28).


Dan mengenai rahmat Allah, maka Dia telah berfirman,


{إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيْبٌ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ}.


“Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al-A’raf: 56).”


Perhatikanlah jawaban agung ini, di dalamnya tergambar jelas ketakwaan yang hakiki dari seorang Ali bin al-Husain. Dan bandingkan jawaban beliau dengan sikap sebagian orang di zaman ini yang mengaku sebagai keturunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang karena itu lalu berlaku sombong kepada selain mereka dari kaum Muslimin, yang seakan-akan dengan itu mereka telah dijamin masuk surga, bahkan mereka merasa paling berhak berbicara tentang Agama ini. Padahal di antara mereka ada ahli bid’ah, bahkan orang-orang yang melakukan perbuatan syirik paling yang dibenci oleh Allah dan RasulNya. Fa La Haula wa La Quwwata illa Billah. Hanya kepada Allah kita memohon keselamatan.


Ini hanya satu sisi dari kepribadian agung Zainal Abidin ini. Dalam buku ini Anda dapat membaca semua sisi kepribadiannya, seperti: kedermawanannya, sikap pemaafnya, sikap penyayangnya kepada fakir miskin, jihad dan pengabdiannya, sikapnya saat berbeda pandangan dengan orang lain, kegigihannya dalam berpegang kepada kebenaran dan lain sebagainya, lengkap dengan riwayat dan kisah-kisahnya.


Kemudian, seperti inilah tokoh-tokoh tabi’in lainnya yang dimuat dalam buku ini.


Dan dalam buku ini Anda dapat menikmati kisah-kisah perjuangan dan keteladanan orang-orang hebat dari generasi tabi’in tersebut, yang merupakan murid-murid dari para shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , yaitu:


Atha` bin Abu Rabah

Amir bin Abdullah at-Tamimi

Urwah bin az-zubair

Ar-Rabi’ bin Khutsaim

Iyas bin Mu’awiyah al-Muzani

Umar bin Abdul Aziz dan putranya, Abdul Malik

Al-Hasan al-Bashri

Syuraih al-Qadhi

Muhammad bin Sirin

Rabi’ah ar-Raiy

Raja` bin Haiwah

Amir bin Syurahbil asy-Sya’bi

Salamah bin Dinar

Sa’id bin Musayyib

Sa’id bin Jubair

Muhammad bin Wasi’ al-Azdi

Muhammad bin al-Hanafiyah (putra Ali bin Abi Thalib y)

Thawus bin Kaisan

Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar

Shilah bin Asyyam al-‘Adawi

Zainal Abidin (Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib).

Abu Muslim al-Khaulani

Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khaththab

Abdurrahman al-Ghafiqi

An-Najasyi (Ashhamah bin Abjar) , raja Habasyah

Abu al-Aliyah

Al-Ahnaf bin Qais

An Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit .

PENUTUP


Setelah membaca perjalanan hidup mereka yang indah dan cemerlang ini, tentu ada doa yang terpanjatkan agar Allah menjadikan kita seperti mereka atau paling tidak dapat berkumpul dengan mereka di surga nanti, sekalipun munajat-munajat itu hanya untaian diam yang hanya didengar oleh Yang Maha Mengetahui.


Camkanlah doa penulis di awal buku ini:


“Ya Allah! sesungguhnya aku mencintai orang-orang pilihan dari kalangan para tabi’in yang terpercaya, dengan kecintaan yang tidak tertandingi kecuali oleh kecintaanku kepada para sahabat Rasul yang mulia, semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mereka semua.


Ya Allah! Maka persatukanlah aku pada hari ketakutan yang besar dengan para tabi’in atau dengan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa tidaklah aku mencintai mereka melainkan karenaMu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah di antara sekian yang pemurah.


Maka mari kita jawab dengan: amin ya Rabbal Alamin.


Dan karena itu semua, buku ini layak dibaca dan dijadikan rujukan oleh semua kalangan kaum Muslimin.

Judul asli: Shuwar Min Hayat at-Tabi’in
Penulis: Dr. Abdurrahman Ra’fat al-Basya
Dengan menggunakan layanan kami, Antum menyetujui segala aturan dan syarat pembelian